SERIAL AQIDAH ISLAM
عالم الجن و الشياطين
MENGENAL DUNIA JIN DAN SETAN
Menurut Al-Qur'an dan Hadits
BAB III Bagian :1
1. SEBAB-SEBAB SEJARAH DAN BESARNYA PERMUSUHAN
Permusuhan antara manusia dengan setan adalah permusuhan yang sudah sangat mengakar. Sejarahnya berpulang sejak Allah menciptakan Nabi Adam sebelum di tiupkan rohnya, sehingga iblis mengitarinya untuk melihatnya , ketika di lihatnya kosong , maka dia mengetahui bahwa Allah menciptakan makhluk yang tidak dapat di kuasai.
(HR. Muslim)
Ketika Allah meniupkan roh kepada Adam, dan memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam, maka Iblis yang juga beribadah kepada Allah di langit bersama para Malaikat , termasuk dalam perintah itu, namun dia merasa tinggi hati dan takabur, maka dia menolak untuk sujud,
Seperti di sebutkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab QASHASHUL ANBIYA ( Kisah Para Nabi )
قال ما منعك ألا تسجد إذ أمرتك ، قال أنا خير منه خلقتنى من نار و خلقته من طين .
Allah berfirman, ''Apa yang menghalangimu sujud (kepada Adam) saat Aku menyuruhmu?'' iblis menjawab, ''Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.''
(QS. Al-A'raf:12)
Karena itu Iblis di kenal sebagai makhluk yang pertama kali melakukan qiyas (perbandingan). Dia membandingkan dirinya dengan Adam. Maka, karena merasa bahwa dirinya lebih mulia, dia menolak sujud kepada adam.
Padahal qiyas (perbandingan) tidak berlaku jika harus berhadapan dengan nash (wahyu). Di sisi lain , qiyas yang di lakukannya pun tidak tepat . Karena (jika Iblis menganggap bahwa api yang menjadi bahan dasar penciptaan dirinya lebih baik dari tanah ), justru tanah yang lebih bermanfaat dan lebih baik. Sebab pada tanah terkandung sifat-sifat keseimbangan, kesantunan, kelembutan dan pertumbuhan, sedangkan api, terkandung padanya sifat-sifat liar, ringan dan cepat membakar.
(Ibnu Katsir Qashashasihil Anbiya)
Lalu bapak kita Adam membuka matanya, dia mendapatkan penghormatan yang besar, para malaikat bersujud kepadanya, akan tetapi dia juga mendapatkan musuh besar yang selalu mengancamnya, dan anak keturunannya kepada kehancuran dan kesesatan.
Lalu Allah mengusir setan dari sorga abadi karena kesombonganya. Dia mendapatkan janji Allah untuk membiarkannya hidup hingga hari kiamat.
قال أنظرنى إلى يوم يبعثون * قال إنك من المنظرين
'' Iblis menjawab : beri tangguhlah saya sampai waktu mereka di bangkitkan. Allah berfirman: ''sesungguhnya kamu termasuk mereka yang di beri tangguh.''
(QS. Al-A'raf: 14-15)
Dan makhluk terlaknat ini telah berjanji terhadap dirinya sendiri untuk menyesatkan anak Adam.
* قال فبما أغو يتنى لأقعدن لهم صرطك المستقيم
* ثم لأتينهم من بين أيديهم ومن خلفهم وعن أيمنهم و عن شما ئلهم و لا تجد أكثرهم شكرين
''Iblis menjawab: ''Karena Engkau telah menghukum saya tersesat , saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka , dari kanan dan dari kiri mereka.'' Dan Engkau tidak akan mendapatkan kebanyakan mereka bersyukur (taat).''
(QS. Al-A'raf : 16-17)
Ucapan tersebut dapat menjadi gambaran betapa hebatnya perjuangan yang akan di lakukan untuk menyesatkan manusia. Dia akan mendatangi manusia dari semua jalur, dari kanan dan kiri, dari depan dan belakang , maksudnya dari semua arah. Az-Zamakh syari berkata dalam tafsir ayat ini:
Kemudian aku akan mendatangi mereka dari empat arah yang biasanya menjadi tempat datangnya musuh. Ini adalah perumpamaan upaya setan yang membisikan dan menggoda manusia sedapat dan semampu mereka, sebagaimana firman-Nya:
واستفزز من استطعت منهم بصوتك و أجلب عليهم بخيلك ورجلك
''Dan gelincirkanlah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu. Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukan yang berjalan kaki.''
(QS. Al-Isra: 64)
Dari tafsir Al-Kasysyaf: 2/71.
Peringatan Allah Kepada Manusia Dari Godaan Setan.
Allah telah panjang lebar mengingatkan kita dari setan karena godaannya yang sangat besar dan kemahirannya dalam menyesatkan serta kesungguhannya dan keuletannya dalam hal itu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يبنى ءادم لا يفتننكم الشيطن
''Hai anak Adam , janganlah sekali-kali kamu dapat di tipu oleh setan.''
(QS. Al-A'raf :27)
إن الشيطن لكم عدو فاتخذ وه عدوا
''Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh mu.
(QS. Al-Fathir:6)
ومن يتخذ الشيطن وليا من دون الله فقد خسر خسرانا مبينا
''Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.''
(QS. An-Nisa: 119)
Permusuhan setan tidak akan musnah, karena dia menilai bahwa dirinya terlaknat dan terusir dari surga adalah karena sebab bapak kita; Adam, maka dia harus menuntut balas terhadap Adam dan anak cucunya.
Sebagaimana firman Allah :
قال أر ءيتك هذا الذى كرمت على لئن أخرتن إلى يوم القيمة لأحتنكن ذريته إلا قليلا
''Dan ( Iblis ) berkata: Terangkanlah kepadaku inikah orang yang Engkau muliakan atas diriku..?, Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya , kecuali sebagian kecil.''
(QS. Al-Isra': 62)
Orang-orang pada umumnya sering memperhatikan tentang sebab cacat dan kerusakan moral, akan tetapi mereka tidak mengenal dengan baik permusuhan setan yang sudah berurat dan berakar.
2. TUJUAN-TUJUAN SETAN
* TUJUAN JANGKA PANJANG.
Satu-satunya tujuan yang ingin di capai pada tahap akhir adalah : Dilemparkannya manusia kedalam neraka jahanam dan di cegahnya mereka dari surga:
إنما يدعوا حزبه ليكونوا من أصحب السعير
''Karena sesungguhnya setan-setan itu hanyalah mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.''
(QS. Fathir: 6)
Inilah tujuan jangka panjang mereka.
* TUJUAN JANGKA PENDEK.
Adapun tujuan jangka pendek mereka sangat banyak, di antaranya:
(a) Menjerumuskan Manusia Kedalam Kesyirikan dan Kekufuran.
Yaitu dengan mengajak manusia untuk beribadah kepada selain Allah, mengingkari Allah dan Syari'at-nya:
كمثل الشيطن إذقال للإ نسن اكفر فلما كفر قال إنى برى ء منك
''Seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia : ''Kafirlah kamu,'' maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata:''Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu.''
(QS. Al-Hasyr: 16)
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari shahabat 'Iyadh bin Humar, sesungguhnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam suatu hari beliau berkata dalam khutbahnya:
''Wahai manusia, sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk mengajarkan kalian apa yang kalian tidak tahu dari apa yang di ajarkan kepadaku hari ini. Semua harta yang di berikan kepada seorang budak halal, Aku menciptakan semua hambaku dalam keadaan lurus, lalu mereka akan di datangi setan yang akan mengusir mereka dari agama mereka, dia menetapkan haram sesuatu yang telah di halalkan bagi mereka , dia memerintahkan mereka untuk bersekutu kepadaku terhadap apa yang tidak Allah turunkan kekuasaan kepadaku.''
(HR. Muslim)
(b). Menjerumuskan Manusia Dalam Dosa Dan Maksiat.
Jika setan tidak mampu untuk menjerumuskan mereka ke dalam syirik dan kekufuran, dia tidak menyerah, maka dia akan puas kalau mereka terjerumus dalam lembah dosa dan kemaksiatan, lalu menciptakan permusuhan di kalangan mereka .
Dalam SUNAN TIRMIDZI dIkatakan :
'' Ketahuilah , sesungguhnya setan telah putus asa memperdaya untuk di sembah di negri kalian, namun dia akan di taati pada apa yang kalian sepelekan dari amal perbuatan kalian , sehingga setan akan puas.''
(HR. Tirmidzi)
Dalam SHAHIH MUSLIM dari Jabir dia berkata : RasulullahShalallahu 'alaihi wasalam bersabda:
''Sesungguhnya setan telah putus asa untuk di sembah oleh orang-orang yang shalat di Jazirah Arab , akan tetapi dengan pertikaian di antara mereka .''
(Misaktul Mashabih 1/27 no 10)
Maksudnya adalah dengan menimbulkan pertikaian dan kebencian serta memprokasi mereka satu sama lain:
إنما يريد الشيطن أن يوقع بينكم العدوة والبغضاء فى الخمر والميسر ويصد كم عن ذكر الله وعن الصلوة فهل أنتم منتهون
''Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang ; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perkerjaan itu) .''
(QS. Al-Maidah :91)
Lalu dia akan mengajak kepada semua keburukan:
إنما يأمركم بالسوء والفحشاء وأن تقو لوا على الله مالا تعلمون
''Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui.''
(QS. Al-Baqarah: 169)
Kesimpulannya : Bahwa semua Ibadah yang di cintai Allah , akan di benci setan , semua kemaksiatan yang di benci Ar-Rahman akan di sukai setan.
(c). Menjerumuskan Mereka Kepada Bid'ah.
Bid'ah merupakan kemaksiatan dan kepasikan yang paling di sukai setan, karena besarnya akibat kerusakan yang di timbulkan bagi agama.
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata:
البدعة أحب إلى إبليس من المعصية . المعصية يتاب منها والبدعة لايتاب منها
''Bid'ah lebih di cintai Iblis dari pada maksiat; karena pelaku maksiat (dapat di harapkan) untuk bertaubat , sedang pelaku bid'ah (sulit di harapkan) taubatnya.''
(Gharib wa Aja'ibul Jin, asy-Syibli, hal 206)
Maksudnya karena mereka meyakini kalau yang mereka kerjakan merupakan bagian dari ibadah.
(d). Menghalangi Manusia Dari Taat Kepada Allah Ta'ala.
Setan tidak merasa cukup mengajak manusia kepada kekufuran, dosa dan kemaksiatan, bahkan dia mencegah mereka dari berbuat kebajikan.... Setan tidak membiarkan ada jalan-jalan kebaikan yang di lalui manusia kecuali dia akan menghalangi dan menggoda mereka.
Dari Subroh bin Abi Fakih, dia berkata, saya mendengar Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasalam bersabda :
'' Sesungguhnya setan menghadang manusia di jalan-jalan yang mereka tempuh . Mereka menghadang manusia di jalan Islam seraya berkata: Kamu masuk Islam , berarti meninggalkan agama (lama) mu dan agama nenek moyangmu, namun orang tersebut tidak menurutinya dan diapun masuk Islam.
Kemudian dia menghadang lagi dari pintu hijrah, seraya berkata: ''Kamu hijrah, meninggalkan tanah airmu ? Sesungguhnya perumpamaan orang yang hijrah seperti seekor kuda dengan tali yang panjang,'' namun orang tersebut menolak menurutinya, diapun tetap hijrah.
Kemudian setan itu menghadang lagi dari jalan jihad seraya berkata:''Kamu berjihad , mengorbankan jiwa dan harta, berperang lalu terbunuh, kemudian istrimu akan di nikahi orang lain dan hartamu akan di bagi-bagikan,'' orang tersebut menolak bisikan setan dan diapun tetap berjihad.
Siapa yang melakukan hal tersebut wajib bagi Allah memasukannya ke dalam surga, siapa yang terbunuh wajib bagi Allah memasukan kedalam surga, jika dia tenggelam, wajib bagi Allah memasukannya kedalam surga , atau di sepak binatang , maka wajib bagi Allah memasukannya kedalam surga.
(HR. Nasa'i)
Kebenaran hal ini terdapat dalam Kitabullah, sebagaimana Allah kisahkan tentang setan bahwa dia berkata kepada-Nya:
* فبما أغو يتنى لأقعدن لهم صرطك المستقيم
* ثم لأتينهم من بين أيديهم ومن خلفهم وعن أيمنهم وعن شما ئلهم ولا تجد أكثرهم شكرين
''Karena Engkau telah menghukum saya tersesat , saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus . Kemudian saya akan mendatangi mereka, dari kanan dari kiri mereka . Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur(taat).''
(QS. Al-A'raf: 16-17)
Firman Allah Ta'ala : ''Saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau.''
Maksudnya adalah di atas jalanmu, artinya akan saya hadang kamu , akan saya awasi kamu dan saya belokan jalanmu.
Perkataan para salaf tentang tafsir ash- shirath saling berdekatan . Ibnu Abbas berkata As-shirath adalah: ''Agama yang jelas '' Ibnu Mas'ud berkata : '' Kitabullah'' Jabir berkata: ''Islam'' sedang Mujahid berkata: ''Al-Haq''
Kesimpulannya setan tidak akan membiarkan jalan -jalan kebaikan kecuali menghadangnya agar manusia tidak melaluinya.
(e). Merusak Keta'atan
Jika setan tidak dapat menghalangi mereka untuk berbuat ketaatan, maka dia akan bersungguh-sungguh untuk merusak ibadah dan ketaatan tersebut, supaya manusia terhalang dari pahala. Hal itulah di antaranya yang di katakan oleh seorang sahabat Usman bin Abil 'Ash , dia datang kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasalam sambil berkata:
''Sesungguhnya setan telah menggangguku dalam shalatku dan bacaanku, sehingga aku jadi kacau.''
Maka Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam bersabda:
''Itu adalah setan yang di sebut Khinzib, jika kamu merasa bahwa dia ada , berlindunglah kepada Allah darinya , dan meludahlah ke kiri sebanyak tiga kali , '' dia berkata: Aku peraktekkan hal itu , maka Allah mengusirnya dariku.''
(HR. Muslim)
Jika seorang Muslim mulai melaksanakan shalatnya , setan datang mengganggunya , membuatnya tidak khusu, ketika kepada Allah, pikirannya disibukan (oleh setan) dengan urusan dunia.
Ini kebiasaan ana dulu shahibul fb kalau lupa kehilangan sesuatu bila sudah lelah mencarinya biasanya ana melakukan shalat sunnah pada waktu shalat itulah ketemunya barang yang hilang , setan berusaha mengembalikan ingatan kita disibukan dengan urusan dunia agar shalat kita lalai tidak memperhatikan bacaan dan tidak khusyu , sehingga hilangnya fahala shalat. Itulah kelihaian setan dalam mengacaukan orang-orang yang shalat. Maka bila tiap kali datang Setan Khinzib ini dengan mebawa berbagai godaan. Segera tolak kembalikan ingatan kita pada shalat teruslah berjihad memeranginya sampai akhir.
Dalam Shahih Bukhari, dari Abu Kurairah Radhiallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shalallahu'alaihi wasalam bersabda:
''Jika adzan shalat di kumandangkan, setan membelakanginya sambil kentut, agar adzan tersebut tidak di dengar, jika adzan telah selesai dia kembali lagi menghadap ke depan. Ketika shalat telah di mulai dia membelakanginya. Lalu dia akan mengganggu seseorang didalam fikirannya, dia katakan '' Ingat ini, ingat ini , mengapa kamu tidak mengingat ini ? '' sehingga orang tersebut lupa , berapa rokaat dia telah shalat.''
(HR. Bukhari dan Muslim)
(f). Setan Mendorong Manusia Untuk Lewat Di Depan Orang Yang Shalat
Abu Saleh As-Saman dia berkata:
''Saya melihat Abu Sa'id Al-Khudri pada hari jumat shalat dengan menggunakan sutrah (pembatas dalam shalat) dari hadapan manusia, lalu seorang pemuda dari Bani Abu Mu'ith hendak lewat di depannya, maka Abu Sa'id mendorong dada orang tersebut , anak itu memandangnya, di tetap ingin jalan di depannya dan kembali hendak melewatinya , maka Abu Sa'id kembali mendorongnya lebih keras lagi dari yang pertama, anak tersebut merasa di sakiti oleh Abu Sa'id , lalu dia mendatangi Marwan dan mengadukan perlakuan yang dia terima dari Abu Sa'id , lalu Abu Sa'id pun ikut masuk menghadap Marwan di belakangnya . Marwan berkata:
''Ada apa engkau dengan keponakanmu wahai Abu Sa'id.?'' maka dia berkata:
''Saya mendengar Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasalam bersabda:
'' Jika salah seorang di antara kalian shalat dengan sesuatunya yang membatasinya dari manusia , lalu ada seseorang yang ingin lewat di hadapannya, maka cegahlah, jika dia memaksa lewat, maka berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk mencegahnya , karena dia adalah setan.''
(HR. Bukhari)
Yang di maksud '' Sesungguhnya dia adalah setan.'' ialah ''Dia melakukan perbuatan setan'' sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqolani hanya saja Ibnu Hajar al-Asqolani menyebutkan kemungkinan lain yang lebih benar dari pendapat pertama, dia berkata:
Kemungkinan maknanya adalah bahwa yang mendorong perbuatan tersebut adalah setan, sebagaimana yang terdapat dalam riwayat Isma'ili:
''Karena bersamanya ada setan,''
Dan riwayat semacam ini juga dalam riwayat Muslim dari Hadits Ibnu Umar dengan redaksi : Karena bersamanya ada pendampingnya (setan).''
(Fathul Bari 1/584)
(g). Setiap Kemaksiatan Kepada Allah, Adalah Keta'atan Kepada Setan
Allah Ta'ala berfirman:
إن يد عون من دونه ، إلا إنثا و إن يد عون إلا شيطنا مريدا.
لعنه الله وقال لأتخذن من عبادك نصيبا مفروضا
''Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak hanyalah menyembah setan yang durhaka. Yang di laknati Allah dan setan itu mengatakan : ''Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bagian yang sudah di tentukan (untuk saya).''
(QS. An-Nisa: 117-118)
Setiap orang yang menyembah selain Allah, baik patung, berhala, mata hari, bulan, hawa nafsu, manusia, maka dia adalah penyembah setan, suka atau tidak suka, karena setanlah yang memerintahkan dan mendorong hal tersebut.
Karena itu orang yang menyembah malaikat pada dasarnya dia menyembah setan.
Allah Ta'ala berfirman:
ويوم يحشرهم جميعا ثم يقول للملئكة أهؤ لاء إياكم كانوا يعبدون
قالوا سبحنك أنت ولينا من دونهم بل كانوا يعبدون الجن أكثرهم بهم مؤمنون
''Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: ''Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu..?'' malaikat-malaikat itu menjawab:''Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami ,'' bukan mereka , bahkan mereka telah menyembah Jin ; kebanyakan mereka beriman kepada Jin itu.''
(QS. Saba' : 40-41)
Maksudnya bahwa Malaikat tidak memerintahkan mereka terhadap hal-hal tersebut , tetapi yang memerintahkan hal tersebut adalah jin agar mereka menjadi hamba setan yang berbentuk seperti mereka sebagaimana setiap patung ada setannya.
(h). Menyakiti Fisik Dan Jiwa
Sebagai mana halnya setan bertujuan menyesatkan manusia pada kekufuran dan dosa , diapun bermaksud menyakiti seorang muslim terhadap fisik dan jiwanya.
Kami akan sebutkan beberapa contoh yang kami ketahui dari upaya mereka tersebut:
* Menyerang Rasulullah
Telah kami sebutkan dalam pembahasan lain tentang hadits yang di dalamnya mengabarkan bahwa Rasulullah SAW diserang oleh setan , juga tentang setan yang menyerang dengan panah api untuk di lemparkan kepada Rasulullah.
Mimpi Dari Setan
Setan memiliki kemampuan untuk memperlihatkan kemampuan untuk memperlihatkan kepada manusia dalam tidurnya dengan mimpi yang membuatnya gelisah , takut dan sedih.
Rasulullah shalallahu alaihi wasalam menagabarkan bahwa mimpi yang di alami seseorang ada tiga macam.
''Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu dari Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda bahwa mimpi ada tiga:
Kabar gembira dari Allah, keinginan jiwa dan ketakutan dari setan .''
Dalam riwayat dari Auf bin Malik bahwa mimpi itu ada tiga , di antaranya adalah ketakutan dari setan agar anak Adam merasa bersedih.''
(HR. ibnu Majah)
Dalam Shahih Bukhari dari Abu Sa'id al-Khudri dia mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda:
''Jika salah seorang di antara kalian melihat mimpi yang di senanginya , maka itu dari Allah, pujilah Allah dan sampaikan hal tersebut (kepada orang lain) , sedangkan jika dia melihat sesuatu yang tidak di sukai nya, maka sesungguhnya hal itu dari setan , berlindunglah dari keburukannya, dan jangan di ceritakan pada seorang pun. Karena hal tersebut tidak mencelakakannya.
(HR. Bukhari)
Membakar Rumah Dengan Api
Yaitu melalui dengan sejumlah hewan yang dia pengaruhi untuk melakukan hal tersebut,
Dalam sunan Abu Dawud dengan sanad yang shahih , sesungguhnya Rasulullah shalallahu Alaihi Wasalam bersabda:
''Jika kalian tidur, matikanlah lampu, karena setan akan menunjukan tikus terhadap lampu tersebut untuk membakar kalian.''
(HR. Abu Dawud)
Setan Mengacaukan Manusia Disaat Kematiannya
Rasulullah Shalallahu Alaihi wasalam berlindung dari hal itu dengan berdo'a:
''Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari terjatuh , tertimbun, tenggelam , kebakaran , dan aku berlindung kepada-Mu dari gangguan setan saat kematian , aku berlindung kepada-Mu meninggal dalam keadaan berpaling dari jalan-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari sengatan.''
(HR. Nasa'i)
Menyakiti Bayi Yang Baru di Lahirkan
Dalam shahih muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, sesungguhnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam bersabda:
''Setiap bani Adam di sentuh setan ketika di lahirkan ibunya kecuali Maryam dan anaknya.''
Dalam shahih Bukhari dari Abu Hurairah dia berkata:
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasalam bersabda:
''Setiap anak Adam di tusuk setan dengan jarinya , kecuali Isa bin Mariyam, setan ingin menusuknya tetapi ada yang menghalanginya.''
(HR . Bukhari)
Dalam shahih Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata:
''Saya mendengar Rasulallah shalallahu 'alaihi wasalam bersabda:
''Tidaklah ada anak Adam yang di lahirkan kecuali dia di sentuh setan saat kelahirannya , maka dia berteriak karena sentuhan setan tersebut, kecuali Maryam dan anaknya.''
(HR. Bukhari)
Sebab terlindungnya Maryam dan anaknya dari setan adalah karena Allah mengabulkan do'anya Mariam ketika melahirkan :
و إنى أ عيذها بك وذريتها من اشيطن الرجيم *
'' Dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada ( pemeliharaan ) Enkau dari pada setan yang terkutuk.''
(QS. Ali Imran: 36)
Karena itu Abu Hurairah membaca ayat ini setelah meriwayatkan hadits di atas.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika ibu Maryam Alaihisalam tulus dalam memohonya, maka Allah mengabulkan permintaannya , maka Maryam dan anaknya di lindungi dari setan yang terkutuk.
Termasuk yang di lindungi Allah juga adalah Ammar bin Yasir. Dalam shahih Bukhari , Abu Darda ,bertanya kepada Alqamah , dia termasuk penduduk Kufah , dia berkata: ''Adakah di antara kalian yang Allah lindungi dari setan berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasalam '' Mughirah berkata:: ''Yang Allah lindungi berdasarkan sabda Nabinya adalah Ammar''
(HR. Bukhari.)
Penyakit Tha'un Dari Jin
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam mengabarkan :
''Sesungguhnya binasanya Ummat ini dengan pembunuhan dan Tha'un serta serta tusukan musuh kalian dari kalangan jin , pada masing-masingnya ada syahadah.''
Pada mustadarak Hakim di riwayatkan :
''Tha'un adalah tusukan musuh kalian dari kalangan Jin , dan bagi kalian akan menjadi syahadah.''
Tampaknya yang menimpa Nabi Allah Ayyub Alaihisalam adalah di sebabkan perbuatan Jin , sebagaimana firman Allah Ta'ala :
واذكر عبدنا أيوب إذنادى ربه أنى مسنى السيطن بنصب وعذاب*
'' Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya : ''Sesungguhnya aku di ganggu setan dengan kepayahan dan siksa ''
(QS. shahd :41)
Penyakit Yang Lainnya
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam bersabda kepada wanita yang mengalami pendarahan istihadhah, yaitu Hamnah bin Jahsy: '' Sesungguhnya dia (darah tersebut) adalah hentakan dari setan.''
(HR. Abu Dawud dan Nasa'i.)
Ikut Serta Makan Minum Dan Tinggal Bersama Manusia
Keburukan yang di bawa setan terhadap manusia adalah mengambil makan dan minum mereka , dia pun ikut tinggal di rumahnya . Hal tersebut terjadi jika seseorang melanggar ajaran Allah Ta'ala , atau lupa berdzikir kepada Allah. Adapun jika dirinya komitmen terhadap petunjuk yang di ajarkan kepadanya , tidak lupa berdzikir kepada Allah , maka setan tidak akan mendapatkan jalan untuk mengganggu harta dan rumahnya.
Setan tidak akan dapat memakan apa yang di makan seseorang kecuali ketika dia makan tidak baca bismillah. Jika dia nama Allah , maka setan akan terhalangi . Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Huzaifah, dia berkata : "Dulu jika kami menghidangkan makanan di hadapan Nabi shalallahu 'alaihi wasalam maka kami tidak meletakan tangan kami di makanan sebelum Rasulullah shalallahu alaihi wasalam mulai meletakan tangannya . Suatu kali kami menghidangkan makanan kepadanya , tiba-tiba datang seorang budak wanita kecil , seakan-akan dia ingin mendahuluinya , maka aku sorongkan makanan kepadanya untuk mengambilnya , lalu rasulullah shalallahu alaihi wasalam memegang tangan orang tersebut , lalu datang lagi orang badui seakan-akan dia ingin mendahuluinya , lalu Rasulullah shalallahu alaihi wasalam memegang tangannya.''
Maka bersabdalah Rasulullah :
'' Sesungguhnya setan akan memakan makanan yang dimakan tanpa menyebut nama Allah, dan dia membawa budak ini untuk maksud tersebut , maka aku pegang tangannya , kemudian dia bawa lagi seorang Badui untuk maksud tersebut , maka aku pegang lagi tangannya . Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya , sesungguhnya tangannya di tanganku bersama tangan dia (setan)''
Rasulullah shalallahu alaihi wasalam telah memerintahkan kita untuk menjaga harta kita dari setan, yaitu dengan menutup perkakas serta menyebut nama Allah , karena itu merupakan perisai dirinya dari setan.
Dalam shahih Muslim dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu anhuma dia berkata , Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda:
'' Tutuplah pintu-pintu, sebutlah nama Allah , sesungguhnya setan tidak dapat masuk pintu yang tertutup. Tutuplah tempat minum kalian , sebutlah nama Allah , tutuplah wadah-wadah kalian dan sebutlah nama Allah meskipun menghadapi sesuatu di atasnya dan matikanlah lampu-lampu kalian.''
(HR. Muslim)
Setanpun akan minum bersama manusia jika ia minum dalam keadaan berdiri . Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , sesungguhnya Rasulallah shalallahu alaihi wasalam melihat seseorang yang minum dalam keadaan berdiri , maka beliau bersabda ''Hindarilah'' dia berkata ''Kenapa?'' beliau bersabda: '' Sukakah kamu jika ada seekor anak kucing minum bersamamu ?'' dia berkata: ''Tidak'' maka Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda:
'' Jika seseorang masuk rumahnya , lalu dia berdzikir ketika masuk rumah dan ketika makan , maka setan berkata kepadanya : ''Tidak ada nginap dan makan malam untuk kalian .'' Adapun jika dia masuk dan tidak berdzikir ketika masuk, maka setan berkata: ''Kalian sekarangdapat tempat menginap, dan jika orang tersebut tidak berdzikir ketika makan, maka setan berkata: ''Kalian mendapat tempat menginap dan makan malam ini.''
(HR. Muslim)
Kesurupan Setan Atau Jin
Ibnu Taimiyah berkata:
''Masuknya jin kedalam tubuh manusia di akui berdasarkan kesepakatan para ulama di kalangan ahlus sunnah waljamaAh.'' Allah Ta'ala berfirman:
الذين يأكلون الربوا لا يقو مون إلا كما يقوم لذى يتخبطه الشيطن من المس *
''Orang-orang yang makan (Mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran tekanan penyakit gila.''
(QS. Al-Baqarah: 275)
Dalam hadits shahih Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam bersabda:
'' Sesungguhnya setan masuk kedalam tubuh manusia melalui pembuluh darah.''
(HR. Bukhari dan Muslim)
Abdullah bin Imam Ahmad bin hambal berkata : Aku berkata kepada bapaku , orang-orang berkata : ''Sesungguhnya jin tidak dapat masuk ketubuh manusia maka beliau berkata: ''Wahai anaku , mereka berdusta, dia katakan itu dengan lisannya sendiri.''
Ibnu taimiyah berkata : ''Inilah (pendapat) yang masyur, karena jika seseorang keserupan, dia akan berbicara dengan ucapan yang tidak dia ketahui maknanya, dipun akan memukul tubuhnya dengan keras yang sekiranya pukulan tersebut di arahkan ke seekor onta niscaya akan sangat menyakitinya, namun demikian saat itu orang tersebut tidak merasakannya , jika tidak merasakan perkataan yang dia ucapkan.
Dia terdorong atau mendorong yang tidak kesurupan, ataupun menarik alas duduknya membalikan segala, perkakas dan kejadian-kejadian lain yang jika di saksikan oleh orang yang melihatnya niscaya dia akan berkeyakinan bahwa pembicara yang menggunakan lisan manusia itu dan penggerak tubuh itu adalah bangsa lain selain manusia.''
Beliaupun Rahimahullah berkata:
''Tidak ada di kalangan imam kaum muslimin yang mengingkari masuknya jin kedalam tubuh manusia yang sedang kerasukan atau yang tidak. Siapa yang mengingkarinya dan mengaku bahwa syari'at mendustai hal tersebut, maka dia mendustai syariat, karena tidak ada dalil syari'at yang menyangkal masalah tersebut.''
Beliau juga menyebutkan bahwa yang mengingkari masuknya jin kedalam tubuh manusia yang kerasukan adalah dari kalangan Mu'tazilah seperti Al-Juba'i dan Abu Bakar Ar-Razi.
(Mazmu' Fatwa Syaikhul Islam: 19/12)
Nex....
3. Pemimpin Perang Antara Jin Dan Manusia.
Warnet paling nyaman dan bersih... Full AC & Music... Datang lansung ke Jl. Taman Pahlawan (Dpn tambal ban samping Taman Makam Pahlawan) Purwakarta... Hp. 085223042666 / 085759022666
Senin, 17 Januari 2011
Sabtu, 08 Januari 2011
Kebesaran Allah dibalik HUJAN

1. Rata-rata kecepatan jatuhnya air hujan hanyalah 8-10 km/jam.
2. Air jatuh ke bumi dengan kecepatan yang rendah karena titik hujan memiliki bentuk khusus yang meningkatkan efek gesekan atmosfer dan membantu hujan turun ke bumi dengan kecepatan yang lebih rendah. Andaikan bentuk titik hujan berbeda, atau andaikan atmosfer tidak memiliki sifat gesekan (bayangkan jika hujan terjadi seperti gelembung air yang besar yang turun dari langit), bumi akan menghadapi kehancuran setiap turun hujan.
3. Ketinggian minimum awan hujan adalah 1.200 meter.
4. Efek yang ditimbulkan oleh satu tetes air hujan yang jatuh dari ketinggian tersebut sama dengan benda seberat 1 kg yang jatuh dari ketinggian 15 cm.
5. Dalam satu detik, kira-kira 16 juta ton air menguap dari bumi.
6. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi dalam satu detik. Dalam satu tahun, diperkirakan jumlah ini akan mencapai 505x1012 ton. Air terus berputar dalam daur yang seimbang berdasarkan “takaran”.
7. Butiran air hujan berubah bentuk ratusan kali tiap detik.
8. Kalau butiran air hujan itu dibekukan akan membentuk keping kristal yg indah, tidak seperti air biasa yang di bekukan di freezer / kulkas.
9. Setelah hujan turun, tanah, ilalang, rerumputan akan mengeluarkan bau wangi yg khas, senyawa ini dinamakan 'petrichor'.
10. Dan fakta terakhir yang paling misterius dan mengejutkan ilmuan. Hujan memiliki kemampuan untuk menghipnotis manusia untuk me-resonansi-kan ingatan masa lalu. Dan tanpa bisa mendapatkan bukti ilmiah, para ilmuan hanya bisa menyimpulkan “Di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yg rindu”.
Dan pada titik ini, para ilmuan meyakini bahwa manusia biasanya mendapatkan inspirasi.
Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya ;hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.(Q.S.7 ; 57 )
Senin, 27 Desember 2010
Akibat Bermain Api

Banyak yang mengira berselingkuh itu nikmat. Di dalam alam bawah sadar perselingkuhan itu menyenangkan namun disaat kesadarannya telah pulih maka batin menjadi tersiksa, penyesalan berkepanjangan apabila perbuatannya diketahui oleh pasangan hidupnya. Tentu saja yang menjadi korban bukan hanya dirinya tetapi juga pasangan dan anak-anak yang tidak berdosa juga menjadi korban secara psikologis mengalami guncangan. Saran saya, jangan bermain api. Nanti terbakar.
Pernah saya bertemu dengan seorang laki-laki muda di Rumah Amalia. Ia tidak bisa melupakan kekasih gelapnya namun ia ingin melepaskan darinya. Ia merasa malu pada istrinya, malu pada orang lain, kenapa ia bisa berselingkuh dengan perempuan lain. Ia merasa berdosa atas semua perbuatan yang dilakukan. Perbuatan itu sudah setahun lalu dilakukan. Pada dasarnya dirinya bukan laki-laki yang mudah tergoda, pertemuan itu bukanlah disengaja, kebetulan ada kegiatan bersama dan kekasihnya yang mengejar-ngejar tetapi begitu sudah mendapatkan malah ia yang tergila-gila padanya.
Lantas mengapa perselingkuhan itu terjadi? Awalnya ia melakukan hanya ingin menunjukkan ego laki-laki yang menganggap dirinya mampu menggaet perempuan yang lebih cantik dari istrinya. ia lakukan karena istrinya pekerja keras dianggapnya terlalu cuek dan telah merendahkan harga dirinya sebagai suami. Namun belakangan yang terjadi malah sebaliknya. Keadaannya malah membaik, ia merasakan ada perubahan dari sikap istrinya, lebih banyak perhatian dan waktu untuknya. Kenyataannya sekarang malah dirinya yang tersiksa, sakit dan merasa berdosa dan hina. Kemudian ia berisiniatif untuk bershodaqoh dan berdoa bersama di Rumah Amalia. 'Mas Agus, tolong bantu saya agar terlepas dari perasaan salah dan bisa kembali bersama keluarga.' Ucapnya penuh isak dan tangis. Saya mengajaknya untuk memperbanyak istighfar. Memohon ampun kepada Allah dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya. Selanjutnya kami berdoa bersama.
Beberapa hari kemudian ia bersama istri datang kembali ke Rumah Amalia. Kondisinya semakin membaik, sedikit demi sedikit. Keluarga itu telah kembali rukun dan bahagia. Semuanya bersyukur kepada Allah atas ujian yang telah dilalui dan kasih sayang Allah yang telah menyelamatkan keluarganya dari kehancuran. Subhanallah.
'Tanamkanlah kesabaran dalam menghadapi segala kesulitan, bencana dan kesengsaraan. Kesabaran merupakan akhlak yang mulia. Bersandarlah kepada Allah dan mintalah senantiasa perlindunganNya dari segala bencana dan penderitaan. Jangan berharap pertolongan dan perlindungan dari siapapun kecuali hanya kepada Allah.' (Ali bin Abi Thalib).
Wassalam,
M. Agus Syafii (Mukzijzah Shalat dan Do'a)
Jumat, 24 Desember 2010
Neraka Jahanam
Rosulullah saw bersabda, "Sesungguhnya neraka jahannam itu memiliki tujuh buah pintu. Setiap pintu memiliki tujuh puluh jurang. Kedalaman setiap jurang adalah tujuh puluh tahun perjalanan (1 hari=1000 tahun dunia). Setiap jurang memiliki tujuh puluh ribu jalan, setiap jalan memiliki tujuh puluh ribu gua. Disetiap gua ada tujuh puluh ribu lorong. Setiap lorong sejauh tujuh puluh tahun perjalanan. Di dalam setiap lorong itu terdapat tujuh puluh ribu ular. Dimulut ular itu terdapat tujuh puluh ribu kalajengking. Setiap kalajengking memiliki tujuh puluh ribu tulang punggung. Disetiap tulang punggung itu terkandung bisa yang pasti akan menyengat setiap orang kafir dan orang munafik" (al Ghunyah; Syaikh Abdul Qadir Jailani, 2010)
Kamis, 09 Desember 2010
Status Ungkapan: "Bekerjalah Kamu untuk Duniamu Seakan Kamu Hidup Selamanya..."
Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Pengasih
Assalamualaikum dan salam sejahtera kepada semua pengunjung dan pembaca blog Cinta Agung. Alhamdulillah wa syukuru lillah, dengan taufiq dan hidayahNya dapat kita bersua di ruangan blog ini.
Satu ungkapan yang biasa kita dengar didalam kuliah dan ceramah agama iaitu
اعمل لدنياك كأنك تعيش أبدا ، و اعمل لآخرتك كأنك تموت غدا
"Bekerjalah kamu untuk duniamu seakan kamu hidup selamanya, dan bekerjalah kamu untuk akhiratmu seakan kamu mati esok hari"
Ramai yang beranggapan bahawa kata-kata di atas merupakan hadis daripada Sayyiduna Rasulullah S.A.W padahal para Imam Ahli Hadis mengatakan ini bukan hadis. Mari kita lihat pendapat para ulama tentangnya..
Syaikh Al Albani mengatakan: La ashala lahhu marfu’an (tidak ada dasarnya dari Rasulullah). (As Silsilah Adh Dha’ifah, 1/63. No. 8. Darul Ma’arif)
Namun, ungkapan ini memang ada secara mauquf (sebagai ucapan sahabat), yakni ucapan Abdullah bin Umar bin Al Khathab. (Ibnu Asy Syajari, Al Amali, 1/386. Mawqi’ Al Warraq) ada juga yang menyebut sebagai ucapan Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash. (Ibnu Abdi Rabbih, Al ‘Aqdul Farid, 2/469. Mawqi’ Al Warraq)
Ada juga ucapan yang mirip dengan ini juga dari Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash Radhiallahu ‘Anhu, dengan kalimat sedikit berbeda yakni “ Uhruz lid Duniaka (Jagalah untuk duniamu) ...’, bukan “ I’mal lid Duniaka (bekerjalah untuk duniamu) ..”
أحزر لدنياك كأنك تعيش أبدا ، واعمل لآخرتك كأنك تموت غدا
“Jagalah untuk duniamu, seakan kamu hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu mati besok.”(Lihat Musnad Al Harits, No. 1079. Mawqi’ Jami’ Al Hadits. Lalu Imam Nuruddin Al Haitsami, Bughiyatul Bahits ‘an Zawaid Musnad Al Harits, Hal. 327. Dar Ath Thala’i Lin Nasyr wat Tauzi’ wat Tashdir. Lihat juga, Al Hafizh Ibnu Hajar, Al Mathalib Al ‘Aliyah, No. 3256. Mauqi’ Jami’ Al Hadits.)
Dalam sumber yang lain disebutkan bahwa ini adalah ucapan dari Abu Darda Radhiallahu ‘Anhu dan Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash juga, dengan ungkapan yang juga agak berbeda yakni “Ihrits lid Duniaka (tanamlah untuk duniamu) ..... dst. (Lihat Imam Ar Raghib Al Ashfahani, Muhadharat Al Adiba’, 1/226. Mawqi’ Al Warraq. Lihat Ibnu Qutaibah,Gharibul Hadits, 1/81, pada Juz 2, Hal.123, beliau menyebutkan bahwa makna Ihrits adalah kumpulkanlah. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)
Jadi, ada tiga macam redaksi: I’malu (Bekerjalah), Uhruz (jagalah), dan Ihrits (tanamlah). Semua ini tidak satu pun yang merupakan ucapan Rasulullah, melainkan ucapan sahabat saja.
Bahkan ada juga sebagai berikut:
أصلحوا دنياكم ، و اعملوا لآخرتكم ، كأنكم تموتون غدا
“Perbaikilah oleh dunia kalian, dan bekerjalah untuk akhirat kalian, seakan kalian mati besok.” (HR. Al Qudha’i, No. 668. Mawqi’ Jami’ Al Hadits)
Hadits ini tanpa ada bagian, “Seakan kau hidup selamanya.” Hadits ini dhaif jiddan (sangat lemah). Lantaran di dalam sanadnya terdapat Miqdam bin Daud dan Sulaiman bin Arqam. Syaikh Al Albani mengatakan dua orang ini adalah perawi dhaif. (As Silsilah Adh Dha’ifah, 2/266. No. 874. Darul Ma’arif)
Imam Al Haitsami mengatakan bahwa Miqdam bin Daud adalah dhaif. (Majma’ Az Zawaid, 5/120. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)
Sementara, Al ‘Allamah Muhammad Thahir bin ‘Ali Al Hindi berkata tentang Sulaiman bin Arqam: matruk (haditsnya ditinggalkan). (Tadzkirah Al Maudhu’at, Hal. 113. Mawqi’ Ya’sub) Begitu pula Al ‘Allamah Alauddin Al Muttaqi Al Hindi juga menyebutnya matruk. (Kanzul ‘Umal, 7/183. No. 18596. Masasah Ar Risalah)
Sedangkan Al Haitsami mengatakan: dhaif. (Majma’ Az Zawaid, 2/69) dan matruk. (Ibid, 2/112) Imam An Nasa’i dan Imam Ad Daruquthni juga mengatakan matruk. (Al Hazfizh Az Zaila’i, Nashbur Rayyah, 1/188. Mawqi’ Al Islam)Sedangkan Az Zaila’i sendiri berkomentar tentang Sulaiman bin Arqam: dhaif menurut para ahli hadits. (Ibid, 1/190. Lihat juga Al Hafizh Al Mizzi, Tuhfatul Asyraf, 13/380. Al Maktab Al Islami) Al Hafizh Ibnu Hajar juga mengatakan:matruk. (At Talkhish Al Habir, 1/655. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)
Selain dua orang ini, sanad hadits ini juga terdapat ‘Isa bin Waqid yang tidak diketahui identitasnya. Al Haitsami berkata: “Aku belum mendapatkan siapa saja yang menyebutkan tentang dia.” (Majma’ Az Zawaid, 1/293) Syaikh Al Albani sendiri mengatakan: Aku tidak mengenalnya.(As Silsilah Adh Dha’ifah, 2/266. No. 874)
Dengan demikian jelaslah bahwa hadits ini sangat lemah. Wallahu A’lam
Catatan:
Walau ini bukan hadits nabi, sekadar ucapan sahabat nabi saja. Ini adalah ucapan yang baik yakni mengajarkan keseriusan dalam ibadah untuk akhirat dan bekerja untuk dunia. Sebab jika keadaannya dibalik, jika manusia beribadah merasa hidup selamanya, dia akan meremehkan ibadah tersebut sebab dia boleh melaksanakannya di lain waktu. Juga jika bekerja untuk dunia justeru merasa besok akan mati, maka dia tidak akan semangat kerja sebab dia merasa apa yang dikerjakannya adalah percuma saja, kerana besok sudah mati.
Jadi, inti kalimat ini mengajarkan profesionalisme dalam bekerja dan ibadah. Namun demikian, sikap berlebihan dalam kedua hal ini juga bukan sikap yang dibenarkan dalam Islam. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersaba:
ما قل و كفى خير مما كثر و ألهى
“Apa pun yang sedikit tapi mencukupi, adalah lebih baik dibanding yang banyak tetapi melalaikan.” (HR. Ahmad No. 20728. Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, 7/82, No. 7. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Awsath, No. 2640 dan 3001. Ath Thabari, Tahdzibul Atsar, No. 2496. Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 9986. Musnad Asy Syihab Al Qudha’i No. 1165. Musnad Ath Thayalisi, No. 1061. Al Hakim, Al Mustadrak ‘alash Shahihan, No. 3620. Katanya: shahih, dan Bukhari-Muslim tidak mengeluarkannya. Ibnu Hibban memasukkannya dalam kitab Shahih-nya No. 3329)
Wallahu alam...
Assalamualaikum dan salam sejahtera kepada semua pengunjung dan pembaca blog Cinta Agung. Alhamdulillah wa syukuru lillah, dengan taufiq dan hidayahNya dapat kita bersua di ruangan blog ini.
Satu ungkapan yang biasa kita dengar didalam kuliah dan ceramah agama iaitu
اعمل لدنياك كأنك تعيش أبدا ، و اعمل لآخرتك كأنك تموت غدا
"Bekerjalah kamu untuk duniamu seakan kamu hidup selamanya, dan bekerjalah kamu untuk akhiratmu seakan kamu mati esok hari"
Ramai yang beranggapan bahawa kata-kata di atas merupakan hadis daripada Sayyiduna Rasulullah S.A.W padahal para Imam Ahli Hadis mengatakan ini bukan hadis. Mari kita lihat pendapat para ulama tentangnya..
Syaikh Al Albani mengatakan: La ashala lahhu marfu’an (tidak ada dasarnya dari Rasulullah). (As Silsilah Adh Dha’ifah, 1/63. No. 8. Darul Ma’arif)
Namun, ungkapan ini memang ada secara mauquf (sebagai ucapan sahabat), yakni ucapan Abdullah bin Umar bin Al Khathab. (Ibnu Asy Syajari, Al Amali, 1/386. Mawqi’ Al Warraq) ada juga yang menyebut sebagai ucapan Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash. (Ibnu Abdi Rabbih, Al ‘Aqdul Farid, 2/469. Mawqi’ Al Warraq)
Ada juga ucapan yang mirip dengan ini juga dari Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash Radhiallahu ‘Anhu, dengan kalimat sedikit berbeda yakni “ Uhruz lid Duniaka (Jagalah untuk duniamu) ...’, bukan “ I’mal lid Duniaka (bekerjalah untuk duniamu) ..”
أحزر لدنياك كأنك تعيش أبدا ، واعمل لآخرتك كأنك تموت غدا
“Jagalah untuk duniamu, seakan kamu hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu mati besok.”(Lihat Musnad Al Harits, No. 1079. Mawqi’ Jami’ Al Hadits. Lalu Imam Nuruddin Al Haitsami, Bughiyatul Bahits ‘an Zawaid Musnad Al Harits, Hal. 327. Dar Ath Thala’i Lin Nasyr wat Tauzi’ wat Tashdir. Lihat juga, Al Hafizh Ibnu Hajar, Al Mathalib Al ‘Aliyah, No. 3256. Mauqi’ Jami’ Al Hadits.)
Dalam sumber yang lain disebutkan bahwa ini adalah ucapan dari Abu Darda Radhiallahu ‘Anhu dan Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash juga, dengan ungkapan yang juga agak berbeda yakni “Ihrits lid Duniaka (tanamlah untuk duniamu) ..... dst. (Lihat Imam Ar Raghib Al Ashfahani, Muhadharat Al Adiba’, 1/226. Mawqi’ Al Warraq. Lihat Ibnu Qutaibah,Gharibul Hadits, 1/81, pada Juz 2, Hal.123, beliau menyebutkan bahwa makna Ihrits adalah kumpulkanlah. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)
Jadi, ada tiga macam redaksi: I’malu (Bekerjalah), Uhruz (jagalah), dan Ihrits (tanamlah). Semua ini tidak satu pun yang merupakan ucapan Rasulullah, melainkan ucapan sahabat saja.
Bahkan ada juga sebagai berikut:
أصلحوا دنياكم ، و اعملوا لآخرتكم ، كأنكم تموتون غدا
“Perbaikilah oleh dunia kalian, dan bekerjalah untuk akhirat kalian, seakan kalian mati besok.” (HR. Al Qudha’i, No. 668. Mawqi’ Jami’ Al Hadits)
Hadits ini tanpa ada bagian, “Seakan kau hidup selamanya.” Hadits ini dhaif jiddan (sangat lemah). Lantaran di dalam sanadnya terdapat Miqdam bin Daud dan Sulaiman bin Arqam. Syaikh Al Albani mengatakan dua orang ini adalah perawi dhaif. (As Silsilah Adh Dha’ifah, 2/266. No. 874. Darul Ma’arif)
Imam Al Haitsami mengatakan bahwa Miqdam bin Daud adalah dhaif. (Majma’ Az Zawaid, 5/120. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)
Sementara, Al ‘Allamah Muhammad Thahir bin ‘Ali Al Hindi berkata tentang Sulaiman bin Arqam: matruk (haditsnya ditinggalkan). (Tadzkirah Al Maudhu’at, Hal. 113. Mawqi’ Ya’sub) Begitu pula Al ‘Allamah Alauddin Al Muttaqi Al Hindi juga menyebutnya matruk. (Kanzul ‘Umal, 7/183. No. 18596. Masasah Ar Risalah)
Sedangkan Al Haitsami mengatakan: dhaif. (Majma’ Az Zawaid, 2/69) dan matruk. (Ibid, 2/112) Imam An Nasa’i dan Imam Ad Daruquthni juga mengatakan matruk. (Al Hazfizh Az Zaila’i, Nashbur Rayyah, 1/188. Mawqi’ Al Islam)Sedangkan Az Zaila’i sendiri berkomentar tentang Sulaiman bin Arqam: dhaif menurut para ahli hadits. (Ibid, 1/190. Lihat juga Al Hafizh Al Mizzi, Tuhfatul Asyraf, 13/380. Al Maktab Al Islami) Al Hafizh Ibnu Hajar juga mengatakan:matruk. (At Talkhish Al Habir, 1/655. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)
Selain dua orang ini, sanad hadits ini juga terdapat ‘Isa bin Waqid yang tidak diketahui identitasnya. Al Haitsami berkata: “Aku belum mendapatkan siapa saja yang menyebutkan tentang dia.” (Majma’ Az Zawaid, 1/293) Syaikh Al Albani sendiri mengatakan: Aku tidak mengenalnya.(As Silsilah Adh Dha’ifah, 2/266. No. 874)
Dengan demikian jelaslah bahwa hadits ini sangat lemah. Wallahu A’lam
Catatan:
Walau ini bukan hadits nabi, sekadar ucapan sahabat nabi saja. Ini adalah ucapan yang baik yakni mengajarkan keseriusan dalam ibadah untuk akhirat dan bekerja untuk dunia. Sebab jika keadaannya dibalik, jika manusia beribadah merasa hidup selamanya, dia akan meremehkan ibadah tersebut sebab dia boleh melaksanakannya di lain waktu. Juga jika bekerja untuk dunia justeru merasa besok akan mati, maka dia tidak akan semangat kerja sebab dia merasa apa yang dikerjakannya adalah percuma saja, kerana besok sudah mati.
Jadi, inti kalimat ini mengajarkan profesionalisme dalam bekerja dan ibadah. Namun demikian, sikap berlebihan dalam kedua hal ini juga bukan sikap yang dibenarkan dalam Islam. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersaba:
ما قل و كفى خير مما كثر و ألهى
“Apa pun yang sedikit tapi mencukupi, adalah lebih baik dibanding yang banyak tetapi melalaikan.” (HR. Ahmad No. 20728. Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, 7/82, No. 7. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Awsath, No. 2640 dan 3001. Ath Thabari, Tahdzibul Atsar, No. 2496. Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 9986. Musnad Asy Syihab Al Qudha’i No. 1165. Musnad Ath Thayalisi, No. 1061. Al Hakim, Al Mustadrak ‘alash Shahihan, No. 3620. Katanya: shahih, dan Bukhari-Muslim tidak mengeluarkannya. Ibnu Hibban memasukkannya dalam kitab Shahih-nya No. 3329)
Wallahu alam...
Kamis, 04 November 2010
111 Cara Agar Anda Mudah Bangun Shalat Malam

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Orang yang bertahajud di waktu malam meninggalkan istri yang cantik dan tempat tidurnya yang empuk, lalu dia berdiri untuk bermunajat kepada Allah, dan oleh karena balasan kebaikan adalah kebaikan dari jenis yang sama, maka Allah akan mengganti waktu para pelaku shalat malam yang telah meninggalkan waktu tidur dengan istrinya dengan memberikan bidadari di surga nanti.
Menurut Rasulullah Sallallahu 'alaihi wassalam , karakter bidadari di surga :"Kalau seorang perempuan dari kalangan bidadari surga turun ke bumi, niscaya ia akan dapat menyinari seisi bumi dan memberikan keharuman didalamnya. Sungguh , penutup kepala sang bidadari lebih baik dari dunia dan seisinya (HR. Al Bukhari dan Muslim )
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam hanya menyebutkan kerudung kepalanya, lalu bagaimana dengan keadaan pemilik kerudung tersebut ?
Abu Said Al Khudri raddiallahu 'anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad Sallallahu 'alaihi wassalam bersabda :
"Sesungguhnya di surga nanti seorang laki-laki akan didatangi seorang wanita yang kemudian menepuk pundaknya. Lalu laki-laki tersebut melihat wajahnya pada pipi wanita tersebut yang sangat lembut dan bening daripada wanita-wanita lainnya. Permata paling indah yang dikenakannya akan bisa menerangi timur dan barat. Wanita ini mengucapkan salam pada laki-laki tersebut yang kemudian dijawabnya. Laki-laki ini bertanya, "Siapa Engkau ?"
Sang bidadari menjawab:"Aku adalah yang tersisa dari bidadari surga". Wanita ini mengenakan tujuh puluh jenis pakaian. Laki-laki itupun menatap dalam-dalam wanita tersebut hingga ia bisa melihat sumsum betisnya. Laki-laki ini memakai mahkota, sedang permata yang paling indah dikenakannya dapat menerangi antara langit dan barat"(HR Ahmad, AL Thabari, dan Ibn Hibban. Dalam Majma Al Zawaid (10/419) Al Haitsami mengatakan bahwa Ahmad dan Abu Ya'la meriwayatkannya dengan sanad hasan)
Abu Hurairah berkata, Di Surga nanti ada bidadari yang dinamakan Al -'Aina : Apabila bidadari ini berjalan , maka ada 70 pelayan yang mendampinginya disebelah kanan dan kiri. Lalu bidadari ini berkata,"Mana orang yang - orang yang melakukan amar ma'ruf nahi mungkar ?"
Ibn Qayyim menulis kan dalam Kitabnya:
"Jika engkau bertanya tentang pengantin dan pasangan untuk penghuni surga, maka mereka bagaikan tumit berdebu yang mengalir pada tulang-tulangnya air kepemudaan. Di pipinya seperti ada keindahan bunga mawar.Mulutnya mengeluarkan susunan permata yag berkilauan. Kelembutan dan kehalusan melekat pada sosok tubuhnya. Apabila ia berbicara pada kekasihnya, maka bagaimana pikiranmu tentang pembicaraan dua orang yang memadu kasih ? Apabila ia menempelkan tubuhnya kepada sang kekasih, maka bagaimana bayanganmu tentang dua ranting pohon yang saling menempel?
Bidadari ini tidak mengandung, tidak haid, tidak melahirkan, tidak mengalami nifas dan monopause. Ia tidak mengeluarkan ingus, tidak meludah, tidak kencing, tidak buang hajat, selalu bersih dari segala kotoran, Kecantikan dan kemudaannya tidak pernah pudar, pakaiannya tidak basah, tidak lusuh, dan harumnya tidak pernah hilang.
Tidak satupun , baik manusia atau jin yang pernah menyentuhnya.
Apa kamu pikirkan jika ada seorang wanita yang tersenyum kepada suaminya lalu senyumannya menyinari surga ?
Apabila wanita ini sedang berjalan dari satu istana ke istana lainnya, engkau akan berkata, "Matahari ini sedang berpindah-pindah dari garis peredarannya"
Bila ia berhubungan dengan suaminya maka alangkah nikmat hubungan tersebut. Bila bernyanyi maka betapa merdu yang terdengar di telinga. Apabila wanita ini menciummu maka tak ada hal lain selain ciumannya yang engkau inginkan. Apabila wanita ini memberimu sesuatu maka tak ada yang lebih baik dari sesuatu tersebut
(Kitab Hadi Al Arwah Karya Ibn Qayyim)
Azhar Ibn Mughitsberkata, "Suatu malam aku pernah bermimpi seorang bidadari surga paling cantik menemuiku. Lalu aku bertanya,"Untuk siapa engkau dipersembahkan?"
Ia menjawab,"Aku dipersembahkan untuk orang yang mengerjakan shalat malam pada musim dingin." (dikutip dari Tanbih AL - Mughtarrin karya Al-Sya'rani)
Azhr ibn Tsabit Al-Taghlabi berkata,"Ayah termasuk orang yang selalu beribadat pada malam hari. Suatu hari ia pernah bermimpi didatangi wanita cantik yang tidak serupa dengan wanita dunia,"lalu ayahku bertanya,"Siapa engkau?"
Aku adalah bidadari di surga" katanya.
"Menikalah denganku"
Pinanglah aku pada TuanKu dan berikan mahar untukku"
Ayahku bertanya,"APa maharmu?
"SHALAT TAHAJJUD" kata sang bidadari.
(dikutip dari 'Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali (1/315)
22 Akibat Berbuat Maksiat
الحمد لله ربِّ العالمين والْعاقِبَةُ لِلْمُتَّقين ولا عُدْوانَ إلَّا عَلى الظَّالمِين
وأشهد أنْ لا إله إلاالله وحده لا شريك له ربَّ الْعالمين وإلَهَ المُرْسلين وقَيُّوْمَ السَّمواتِ والأَرَضِين
وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوثُ بالكتابِ المُبين الفارِقِ بَيْنَ الهُدى والضَّلالِ والْغَيِّ والرَّشادِ والشَّكِّ وَالْيَقِين
والصَّلاةُ والسَّلامُ عَلى حَبِْيبِنا و شَفِيْعِنا مُحمَّدٍ سَيِّدِ المُرْسلين و إمامِ المهتَدين و قائِدِ المجاهدين وعلى آله وصحبه أجمعين.أما بعد،
فياأيها المسلمون أوصيكم وإياي بتقوى الله عز وجل والتَّمَسُّكِ بهذا الدِّين تَمَسُّكًا قَوِيًّا
فقال الله تعالى في كتابه الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “
قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : « إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِى قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ فَإِنْ زَادَ زَادَتْ فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَهُ اللَّهُ فِى كِتَابِهِ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) ».
dakwatuna.com – “Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia bertobat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (HR Tarmidzi)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…
Tahukah Anda sekalian apa akibat yang menimpa diri kita jika kita melakukan maksiat? Ibnu Qayyim Al-Jauziyah telah meneliti tentang hal ini. Menurutnya, ada 22 akibat yang akan menimpa diri kita. Karena itu, renungkahlah, wahai orang-orang yang berakal!
Akibat yang pertama adalah maksiat akan menghalangi diri kita untuk mendapatkan ilmu pengetahuan (حُرْماََنُ الْعٍلْمِ)
Jama’ah yang dimuliakan Allah….
Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Tapi ketahuilah, kemaksiatan dalam hati kita dapat menghalangi dan memadamkan cahaya itu. Suatu ketika Imam Malik melihat kecerdasan dan daya hafal Imam Syafi’i yang luar biasa. Imam Malik berkata, “Aku melihat Allah telah menyiratkan dan memberikan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat.”
Perhatikan, wahai Saudaraku sekalian, Imam Malik menunjukkan kepada kita bahwa pintu ilmu pengetahuan akan tertutup dari hati kita jika kita melakukan maksiat.
Akibat yang kedua adalah maksiat akan menghalangi Rezeki ((حُرْمَانُ الرِزْقِ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….
Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rezeki, maka meninggalkan ketakwaan berarti menimbulkan kefakiran. Rasulullah saw. pernah bersabda, “Seorang hamba dicegah dari rezeki akibat dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad)
Karena itu, wahai Saudaraku sekalian, kita harus meyakini bahwa takwa adalah penyebab yang akan mendatangkan rezeki dan memudahkan rezeki kita. Jika saat ini kita merasakan betapa sulitnya mendapatkan rezeki Allah, maka tinggalkan kemaksiatan! Jangan kita penuhi jiwa kita dengan debu-debu maksiat.
Jama’ah yang dimuliakan Allah….
Akibat ketiga, maksiat membuat kita berjarak dengan Allah.
Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang arif tentang kesunyian jiwanya. Sang arif berpesan, “Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka tinggalkanlah perbuatan dosa itu. Dalam hati kita, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa di atas dosa.”
Akibat maksiat yang keempat adalah kita akan punya jarak dengan orang-orang baik.
Semakin banyak dan semakin berat maksiat yang kita lakukan, akan semakin jauh pula jarak kita dengan orang-orang baik. Sungguh jiwa kita akan kesepian. Sunyi. Dan jiwa kita yang gersang tanpa sentuhan orang-orang baik itu, akan berdampak pada hubungan kita dengan keluarga, istri, anak-anak, dan bahkan hati nuraninya sendiri. Seorang salaf berkata, “Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang (kendaraan) dan istriku.”
Akibat kelima, maksiat membuat sulit semua urusan kita ((تَعْسِيْرُ أُمُوْرِهِ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….
Jika ketakwaan dapat memudahkan segala urusan, maka kemaksiatan akan mempesulit segala urusan pelakunya. Ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah gelap gulita. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di dalam kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya rezeki dan kebencian makhluk.”
Begitulah, wahai Saudaraku, jika kita gemar bermaksiat, semua urusan kita akan menjadi sulit karena semua makhluk di alam semesta benci pada diri kita. Air yang kita minum tidak ridha kita minum. Makanan yang kita makan tidak suka kita makan. Orang-orang tidak mau berurusan dengan kita karena benci.
Jama’ah yang dimuliakan Allah….
Akibat keenam, maksiat melemahkan hati dan badan ((أَنَ المَعاَ صِي تُوْهِن القَلْب َ و الْبَدَنَ
Kekuatan seorang mukmin terpancar dari kekuatan hatinya. Jika hatinya kuat, maka kuatlah badannya. Tapi pelaku maksiat, meskipun badannya kuat, sesungguhnya dia sangat lemah. Tidak ada kekuatan dalam dirinya.
Wahai Saudaraku, lihatlah bagaimana menyatunya kekuatan fisik dan hati kaum muslimin pada diri generasi pertama. Para sahabat berhasil mengalahkan kekuatan fisik tentara bangsa Persia dan Romawi padahal para sahabat berperang dalam keadaan berpuasa!
Akibat maksiat yang ketujuh adalah kita terhalang untuk taat(حُرْماَن الطاَعَةِ)
Orang yang melakukan dosa dan maksiat cenderung untuk tidak taat. Orang yang berbuat masiat seperti orang yang satu kali makan, tetapi mengalami sakit berkepanjangan. Sakit itu menghalanginya dari memakan makanan lain yang lebih baik. Begitulah. Jika kita hobi berbuat masiat, kita akan terhalang untuk berbuat taat.
Saudaraku yang dimuliakan Allah….
Maksiat memperpendek umur dan menghapus keberkahanأنَ المَعاَ صِي تَقْصرُ العُمْرَ وبرَكَتَُهُ
Ini akibat maksiat yang kedelapan. Pada dasarnya, umur manusia dihitung dari masa hidupnya. Padahal, tidak ada kehidupan kecuali jika hidup itu dihabiskan untuk ketaatan, ibadah, cinta, dan dzikir kepada Allah serta mencari keridhaan-Nya.
Jika usia kita saat ini 40 tahun. Tiga per empatnya kita isi dengan maksiat. Dalam kacamata iman, usia kita tak lebih hanya 10 tahun saja. Yang 30 tahun adalah kesia-siaan dan tidak memberi berkah sedikitpun. Inilah maksud pendeknya umur pelaku maksiat.
Sementara, Imam Nawawi yang hanya diberi usia 30 tahun oleh Allah swt. Usianya begitu panjang. Sebab, hidupnya meski pendek namun berkah. Kitab Riyadhush Shalihin dan Hadits Arbain yang ditulisnya memberinya keberkahan dan usia yang panjang, sebab dibaca oleh manusia dari generasi ke generasi hingga saat ini dan mungkin generasi yang akan datang.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….
Akibat kesembilan, maksiat menumbuhkan maksiat lainان المَعاصِي تَزْرَع أَمْثالها) )
Seorang ulama salaf berkata, jika seorang hamba melakukan kebaikan, maka hal tersebut akan mendorongnya untuk melakukan kebaikan yang lain dan seterusnya. Dan jika seorang hamba melakukan keburukan, maka dia pun akan cenderung untuk melakukan keburukan yang lain sehingga keburukan itu menjadi kebiasaan bagi pelakunya.
Karena itu, hati-hatilah, Saudaraku. Jangan sekali-kali mencoba berbuat maksiat. Kalian akan ketagihan dan tidak bisa lagi berhenti jika sudah jadi kebiasaan!
Maksiat mematikan bisikan hati nurani (ضْعِفُ القَلْبَ)
Ini akibat berbuat maksiat yang kesepuluh. Maksiat dapat melemahkan hati dari kebaikan. Dan sebaliknya, akan menguatkan kehendak untuk berbuat maksiat yang lain. Maksiat pun dapat memutuskan keinginan hati untuk bertobat. Inilah yang menjadikan penyakit hati paling besar: kita tidak bisa mengendalikan hati kita sendiri. Hati kita menjadi liar mengikuti jejak maksiat ke maksiat yang lain.
Jika sudah seperti itu, hati kita akan melihat maksiat begitu indah. Tidak ada keburukan sama sekali ((أَنْ يَنْسَلِخَ مِنَ القَلْبِ إسْتٌقْبَاحُها
Jama’ah yang dimuliakan Allah….
Itulah akibat maksiat yang kesebelas. Tidak ada lagi rasa malu ketika berbuat maksiat. Jika orang sudah biasa berbuat maksiat, ia tidak lagi memandang perbuatan itu sebagai sesuatu yang buruk. Tidak ada lagi rasa malu melakukannya. Bahkan, dengan rasa bangga ia menceritakan kepada orang lain dengan detail semua maksiat yang dilakukannya. Dia telah menganggap ringan dosa yang dilakukannya. Padahal dosa itu demikian besar di mata Allah swt.
Para pelaku maksiat yang seperti itu akan menjadi para pewaris umat yang pernah diazab Allah swt.
Ini akibat kedua belas yang menimpa pelaku maksiat. ميْراَثٌ عَن ْ أُمَةٍ منَ الأُمَمِ التِي أهْلَكَهاَ اللهُ
Homoseksual adalah maksiat warisan umat nabi Luth a.s. Perbuatan curang dengan mengurangi takaran adalah maksiat peninggalan kaum Syu’aib a.s. Kesombongan di muka bumi dan menciptakan berbagai kerusakan adalah milik Fir’aun dan kaumnya. Sedangkan takabur dan congkak merupakan maksiat warisan kaum Hud a.s.
Dengan demikian, kita bisa simpulkan bahwa pelaku maksiat zaman sekarang ini adalah pewaris kaum umat terdahulu yang menjadi musuh Allah swt. Dalam musnad Imam Ahmad dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongannya.” Na’udzubillahi min dzalik! Semoga kita bukan salah satu dari mereka.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….
Akibat berbuat maksiat yang ketiga belas adalah maksiat menimbulkan kehinaan dan mewariskan kehinadinaan ((أن َ الْمَعْصِيةَ سَبَبٌ لِهَوانِ العَبْد وَسُقُوطُه مِن ْ عَيْنِهِ
Kehinaan itu tidak lain adalah akibat perbuatan maksiat kepada Allah sehingga Allah pun menghinakannya. “Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Al-Hajj:18). Sedangkan kemaksiatan itu akan melahirkan kehinadinaan. Karena, kemuliaan itu hanya akan muncul dari ketaatan kepada Allah swt. “Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu….” (Al-Faathir:10). Seorang Salaf pernah berdoa, “Ya Allah, anugerahilah aku kemuliaan melalui ketaatan kepada-Mu; dan janganlah Engkau hina-dinakan aku karena aku bermaksiat kepada-Mu.”
Akibat keempat belas, maksiat merusak akal kita اِنَ اْلمَعَاصِي تُفْسِدُ الْعَقْلَ))
Saudaraku yang dimuliakan Allah….
Tidak mungkin akal yang sehat lebih mendahulukan hal-hal yang hina. Ulama salaf berkata, seandainya seseorang itu masih berakal sehat, akal sehatnya itu akan mencegahnya dari kemaksiatan kepada Allah. Dia akan berada dalam genggaman Allah, sementara malaikat menyaksikan, dan nasihat Al-Qur’an pun mencegahnya, begitu pula dengan nasihat keimanan. Tidaklah seseorang melakukan maksiat, kecuali akalnya telah hilang!
Akibat kelima belas, maksiat menutup hati.
Allah berfirman, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Al-Muthaffifiin:14). Imam Hasan mengatakan hal itu sebagai dosa yang berlapis dosa. Ketika dosa dan maksiat telah menumpuk, maka hatinya pun telah tertutup.
Akibat keenam belas, pelaku maksiat mendapat laknat Rasulullah saw.
Saudaraku sekalian, Rasulullah saw. melaknat perbuatan maksiat seperti mengubah petunjuk jalan, padahal petunjuk jalan itu sangat penting (HR Bukhari); melakukan perbuatan homoseksual (HR Muslim); menyerupai laki-laki bagi wanita dan menyerupai wanita bagi laki-laki; mengadakan praktik suap-manyuap (HR Tarmidzi), dan sebagainya. Karena itu, tinggalkanlah semua itu!
Akibat ketujuh belas, maksiat menghalangi syafaat Rasulullah dan Malaikat.
Kecuali, bagi mereka yang bertobat dan kembali kepada jalan yang lurus. Allah swt. berfirman, “(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman seraya mengucapkan: ‘Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyla-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shalih d iantara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan.” (Al-Mukmin: 7-9)
Akibat kedelapan belas, maksiat melenyapkan rasa malu.
Padahal, malu adalah pangkal kebajikan. Jika rasa malu telah hilang dari diri kita, hilangkah seluruh kebaikan dari diri kita. Rasulullah bersabda, “Malu itu merupakan kebaikan seluruhnya. Jika kamu tidak merasa malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….
Akibat kesembilan belas, maksiat yang kita lakukan adalah bentuk meremehkan Allah.
Jika kita melakukan maksiat, disadari atau tidak, rasa untuk mengagungkan Allah perlahan-lahan lenyap dari hati kita. Ketika kita bermaksiat, kita sadari atau tidak, kita telah menganggap remeh adzab Allah. Kita mengacuhkan bahwa Allah Maha Melihat segala perbuatan kita. Sungguh ini kedurhakaan yang luar biasa!
Saudaraku yang dimuliakan Allah….
Maksiat memalingkan perhatian Allah atas diri kita. Ini akibat yang kedua puluh.
Allah akan membiarkan orang yang terus-menerus berbuat maksiat berteman dengan setan. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyir: 19)
Maksiat melenyapkan nikmat dan mendatangkan azab. Ini akibat yang kedua puluh satu.
Allah berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)
Ali r.a. berkata, “Tidaklah turun bencana melainkan karena dosa. Dan tidaklah bencana lenyap melainkan karena tobat.” Karena itu, bukankah sekarang waktunya bagi kita untuk segera bertobat dan berhenti dari segala maksiat yang kita lakukan?
Dan akibat yang terakhir, yang kedua puluh dua, maksiat memalingkan diri kita dari sikap istiqamah.
Kita hidup di dunia ini sebenarnya bagaikan seorang pedagang. Dan pedagang yang cerdik tentu akan menjual barangnya kepada pembeli yang sanggup membayar dengan harga tinggi. Saudaraku, siapakah yang sanggup membeli diri kita dengan harga tinggi selain Allah? Allah-lah yang mampu membeli diri kita dengan bayaran kehidupan surga yang abadi. Jika seseorang menjual dirinya dengan imbalan kehidupan dunia yang fana, sungguh ia telah tertipu!
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….
Renungkan! Renungkan…! Semoga Allah menjaga kita semua dari perbuatan maksiat. Amin.
بارك الله لنا ولكم في القرآن العظيم ونفعنا وإياكم بما فيه من الآيات و الذكرالحكيم فاستغفروا الله فإنه هو الغفور الرحيم
وأشهد أنْ لا إله إلاالله وحده لا شريك له ربَّ الْعالمين وإلَهَ المُرْسلين وقَيُّوْمَ السَّمواتِ والأَرَضِين
وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوثُ بالكتابِ المُبين الفارِقِ بَيْنَ الهُدى والضَّلالِ والْغَيِّ والرَّشادِ والشَّكِّ وَالْيَقِين
والصَّلاةُ والسَّلامُ عَلى حَبِْيبِنا و شَفِيْعِنا مُحمَّدٍ سَيِّدِ المُرْسلين و إمامِ المهتَدين و قائِدِ المجاهدين وعلى آله وصحبه أجمعين.أما بعد،
فياأيها المسلمون أوصيكم وإياي بتقوى الله عز وجل والتَّمَسُّكِ بهذا الدِّين تَمَسُّكًا قَوِيًّا
فقال الله تعالى في كتابه الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “
قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : « إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِى قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ فَإِنْ زَادَ زَادَتْ فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَهُ اللَّهُ فِى كِتَابِهِ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) ».
dakwatuna.com – “Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia bertobat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (HR Tarmidzi)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…
Tahukah Anda sekalian apa akibat yang menimpa diri kita jika kita melakukan maksiat? Ibnu Qayyim Al-Jauziyah telah meneliti tentang hal ini. Menurutnya, ada 22 akibat yang akan menimpa diri kita. Karena itu, renungkahlah, wahai orang-orang yang berakal!
Akibat yang pertama adalah maksiat akan menghalangi diri kita untuk mendapatkan ilmu pengetahuan (حُرْماََنُ الْعٍلْمِ)
Jama’ah yang dimuliakan Allah….
Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Tapi ketahuilah, kemaksiatan dalam hati kita dapat menghalangi dan memadamkan cahaya itu. Suatu ketika Imam Malik melihat kecerdasan dan daya hafal Imam Syafi’i yang luar biasa. Imam Malik berkata, “Aku melihat Allah telah menyiratkan dan memberikan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat.”
Perhatikan, wahai Saudaraku sekalian, Imam Malik menunjukkan kepada kita bahwa pintu ilmu pengetahuan akan tertutup dari hati kita jika kita melakukan maksiat.
Akibat yang kedua adalah maksiat akan menghalangi Rezeki ((حُرْمَانُ الرِزْقِ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….
Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rezeki, maka meninggalkan ketakwaan berarti menimbulkan kefakiran. Rasulullah saw. pernah bersabda, “Seorang hamba dicegah dari rezeki akibat dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad)
Karena itu, wahai Saudaraku sekalian, kita harus meyakini bahwa takwa adalah penyebab yang akan mendatangkan rezeki dan memudahkan rezeki kita. Jika saat ini kita merasakan betapa sulitnya mendapatkan rezeki Allah, maka tinggalkan kemaksiatan! Jangan kita penuhi jiwa kita dengan debu-debu maksiat.
Jama’ah yang dimuliakan Allah….
Akibat ketiga, maksiat membuat kita berjarak dengan Allah.
Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang arif tentang kesunyian jiwanya. Sang arif berpesan, “Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka tinggalkanlah perbuatan dosa itu. Dalam hati kita, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa di atas dosa.”
Akibat maksiat yang keempat adalah kita akan punya jarak dengan orang-orang baik.
Semakin banyak dan semakin berat maksiat yang kita lakukan, akan semakin jauh pula jarak kita dengan orang-orang baik. Sungguh jiwa kita akan kesepian. Sunyi. Dan jiwa kita yang gersang tanpa sentuhan orang-orang baik itu, akan berdampak pada hubungan kita dengan keluarga, istri, anak-anak, dan bahkan hati nuraninya sendiri. Seorang salaf berkata, “Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang (kendaraan) dan istriku.”
Akibat kelima, maksiat membuat sulit semua urusan kita ((تَعْسِيْرُ أُمُوْرِهِ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….
Jika ketakwaan dapat memudahkan segala urusan, maka kemaksiatan akan mempesulit segala urusan pelakunya. Ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah gelap gulita. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di dalam kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya rezeki dan kebencian makhluk.”
Begitulah, wahai Saudaraku, jika kita gemar bermaksiat, semua urusan kita akan menjadi sulit karena semua makhluk di alam semesta benci pada diri kita. Air yang kita minum tidak ridha kita minum. Makanan yang kita makan tidak suka kita makan. Orang-orang tidak mau berurusan dengan kita karena benci.
Jama’ah yang dimuliakan Allah….
Akibat keenam, maksiat melemahkan hati dan badan ((أَنَ المَعاَ صِي تُوْهِن القَلْب َ و الْبَدَنَ
Kekuatan seorang mukmin terpancar dari kekuatan hatinya. Jika hatinya kuat, maka kuatlah badannya. Tapi pelaku maksiat, meskipun badannya kuat, sesungguhnya dia sangat lemah. Tidak ada kekuatan dalam dirinya.
Wahai Saudaraku, lihatlah bagaimana menyatunya kekuatan fisik dan hati kaum muslimin pada diri generasi pertama. Para sahabat berhasil mengalahkan kekuatan fisik tentara bangsa Persia dan Romawi padahal para sahabat berperang dalam keadaan berpuasa!
Akibat maksiat yang ketujuh adalah kita terhalang untuk taat(حُرْماَن الطاَعَةِ)
Orang yang melakukan dosa dan maksiat cenderung untuk tidak taat. Orang yang berbuat masiat seperti orang yang satu kali makan, tetapi mengalami sakit berkepanjangan. Sakit itu menghalanginya dari memakan makanan lain yang lebih baik. Begitulah. Jika kita hobi berbuat masiat, kita akan terhalang untuk berbuat taat.
Saudaraku yang dimuliakan Allah….
Maksiat memperpendek umur dan menghapus keberkahanأنَ المَعاَ صِي تَقْصرُ العُمْرَ وبرَكَتَُهُ
Ini akibat maksiat yang kedelapan. Pada dasarnya, umur manusia dihitung dari masa hidupnya. Padahal, tidak ada kehidupan kecuali jika hidup itu dihabiskan untuk ketaatan, ibadah, cinta, dan dzikir kepada Allah serta mencari keridhaan-Nya.
Jika usia kita saat ini 40 tahun. Tiga per empatnya kita isi dengan maksiat. Dalam kacamata iman, usia kita tak lebih hanya 10 tahun saja. Yang 30 tahun adalah kesia-siaan dan tidak memberi berkah sedikitpun. Inilah maksud pendeknya umur pelaku maksiat.
Sementara, Imam Nawawi yang hanya diberi usia 30 tahun oleh Allah swt. Usianya begitu panjang. Sebab, hidupnya meski pendek namun berkah. Kitab Riyadhush Shalihin dan Hadits Arbain yang ditulisnya memberinya keberkahan dan usia yang panjang, sebab dibaca oleh manusia dari generasi ke generasi hingga saat ini dan mungkin generasi yang akan datang.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….
Akibat kesembilan, maksiat menumbuhkan maksiat lainان المَعاصِي تَزْرَع أَمْثالها) )
Seorang ulama salaf berkata, jika seorang hamba melakukan kebaikan, maka hal tersebut akan mendorongnya untuk melakukan kebaikan yang lain dan seterusnya. Dan jika seorang hamba melakukan keburukan, maka dia pun akan cenderung untuk melakukan keburukan yang lain sehingga keburukan itu menjadi kebiasaan bagi pelakunya.
Karena itu, hati-hatilah, Saudaraku. Jangan sekali-kali mencoba berbuat maksiat. Kalian akan ketagihan dan tidak bisa lagi berhenti jika sudah jadi kebiasaan!
Maksiat mematikan bisikan hati nurani (ضْعِفُ القَلْبَ)
Ini akibat berbuat maksiat yang kesepuluh. Maksiat dapat melemahkan hati dari kebaikan. Dan sebaliknya, akan menguatkan kehendak untuk berbuat maksiat yang lain. Maksiat pun dapat memutuskan keinginan hati untuk bertobat. Inilah yang menjadikan penyakit hati paling besar: kita tidak bisa mengendalikan hati kita sendiri. Hati kita menjadi liar mengikuti jejak maksiat ke maksiat yang lain.
Jika sudah seperti itu, hati kita akan melihat maksiat begitu indah. Tidak ada keburukan sama sekali ((أَنْ يَنْسَلِخَ مِنَ القَلْبِ إسْتٌقْبَاحُها
Jama’ah yang dimuliakan Allah….
Itulah akibat maksiat yang kesebelas. Tidak ada lagi rasa malu ketika berbuat maksiat. Jika orang sudah biasa berbuat maksiat, ia tidak lagi memandang perbuatan itu sebagai sesuatu yang buruk. Tidak ada lagi rasa malu melakukannya. Bahkan, dengan rasa bangga ia menceritakan kepada orang lain dengan detail semua maksiat yang dilakukannya. Dia telah menganggap ringan dosa yang dilakukannya. Padahal dosa itu demikian besar di mata Allah swt.
Para pelaku maksiat yang seperti itu akan menjadi para pewaris umat yang pernah diazab Allah swt.
Ini akibat kedua belas yang menimpa pelaku maksiat. ميْراَثٌ عَن ْ أُمَةٍ منَ الأُمَمِ التِي أهْلَكَهاَ اللهُ
Homoseksual adalah maksiat warisan umat nabi Luth a.s. Perbuatan curang dengan mengurangi takaran adalah maksiat peninggalan kaum Syu’aib a.s. Kesombongan di muka bumi dan menciptakan berbagai kerusakan adalah milik Fir’aun dan kaumnya. Sedangkan takabur dan congkak merupakan maksiat warisan kaum Hud a.s.
Dengan demikian, kita bisa simpulkan bahwa pelaku maksiat zaman sekarang ini adalah pewaris kaum umat terdahulu yang menjadi musuh Allah swt. Dalam musnad Imam Ahmad dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongannya.” Na’udzubillahi min dzalik! Semoga kita bukan salah satu dari mereka.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….
Akibat berbuat maksiat yang ketiga belas adalah maksiat menimbulkan kehinaan dan mewariskan kehinadinaan ((أن َ الْمَعْصِيةَ سَبَبٌ لِهَوانِ العَبْد وَسُقُوطُه مِن ْ عَيْنِهِ
Kehinaan itu tidak lain adalah akibat perbuatan maksiat kepada Allah sehingga Allah pun menghinakannya. “Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Al-Hajj:18). Sedangkan kemaksiatan itu akan melahirkan kehinadinaan. Karena, kemuliaan itu hanya akan muncul dari ketaatan kepada Allah swt. “Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu….” (Al-Faathir:10). Seorang Salaf pernah berdoa, “Ya Allah, anugerahilah aku kemuliaan melalui ketaatan kepada-Mu; dan janganlah Engkau hina-dinakan aku karena aku bermaksiat kepada-Mu.”
Akibat keempat belas, maksiat merusak akal kita اِنَ اْلمَعَاصِي تُفْسِدُ الْعَقْلَ))
Saudaraku yang dimuliakan Allah….
Tidak mungkin akal yang sehat lebih mendahulukan hal-hal yang hina. Ulama salaf berkata, seandainya seseorang itu masih berakal sehat, akal sehatnya itu akan mencegahnya dari kemaksiatan kepada Allah. Dia akan berada dalam genggaman Allah, sementara malaikat menyaksikan, dan nasihat Al-Qur’an pun mencegahnya, begitu pula dengan nasihat keimanan. Tidaklah seseorang melakukan maksiat, kecuali akalnya telah hilang!
Akibat kelima belas, maksiat menutup hati.
Allah berfirman, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Al-Muthaffifiin:14). Imam Hasan mengatakan hal itu sebagai dosa yang berlapis dosa. Ketika dosa dan maksiat telah menumpuk, maka hatinya pun telah tertutup.
Akibat keenam belas, pelaku maksiat mendapat laknat Rasulullah saw.
Saudaraku sekalian, Rasulullah saw. melaknat perbuatan maksiat seperti mengubah petunjuk jalan, padahal petunjuk jalan itu sangat penting (HR Bukhari); melakukan perbuatan homoseksual (HR Muslim); menyerupai laki-laki bagi wanita dan menyerupai wanita bagi laki-laki; mengadakan praktik suap-manyuap (HR Tarmidzi), dan sebagainya. Karena itu, tinggalkanlah semua itu!
Akibat ketujuh belas, maksiat menghalangi syafaat Rasulullah dan Malaikat.
Kecuali, bagi mereka yang bertobat dan kembali kepada jalan yang lurus. Allah swt. berfirman, “(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman seraya mengucapkan: ‘Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyla-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shalih d iantara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan.” (Al-Mukmin: 7-9)
Akibat kedelapan belas, maksiat melenyapkan rasa malu.
Padahal, malu adalah pangkal kebajikan. Jika rasa malu telah hilang dari diri kita, hilangkah seluruh kebaikan dari diri kita. Rasulullah bersabda, “Malu itu merupakan kebaikan seluruhnya. Jika kamu tidak merasa malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….
Akibat kesembilan belas, maksiat yang kita lakukan adalah bentuk meremehkan Allah.
Jika kita melakukan maksiat, disadari atau tidak, rasa untuk mengagungkan Allah perlahan-lahan lenyap dari hati kita. Ketika kita bermaksiat, kita sadari atau tidak, kita telah menganggap remeh adzab Allah. Kita mengacuhkan bahwa Allah Maha Melihat segala perbuatan kita. Sungguh ini kedurhakaan yang luar biasa!
Saudaraku yang dimuliakan Allah….
Maksiat memalingkan perhatian Allah atas diri kita. Ini akibat yang kedua puluh.
Allah akan membiarkan orang yang terus-menerus berbuat maksiat berteman dengan setan. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyir: 19)
Maksiat melenyapkan nikmat dan mendatangkan azab. Ini akibat yang kedua puluh satu.
Allah berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)
Ali r.a. berkata, “Tidaklah turun bencana melainkan karena dosa. Dan tidaklah bencana lenyap melainkan karena tobat.” Karena itu, bukankah sekarang waktunya bagi kita untuk segera bertobat dan berhenti dari segala maksiat yang kita lakukan?
Dan akibat yang terakhir, yang kedua puluh dua, maksiat memalingkan diri kita dari sikap istiqamah.
Kita hidup di dunia ini sebenarnya bagaikan seorang pedagang. Dan pedagang yang cerdik tentu akan menjual barangnya kepada pembeli yang sanggup membayar dengan harga tinggi. Saudaraku, siapakah yang sanggup membeli diri kita dengan harga tinggi selain Allah? Allah-lah yang mampu membeli diri kita dengan bayaran kehidupan surga yang abadi. Jika seseorang menjual dirinya dengan imbalan kehidupan dunia yang fana, sungguh ia telah tertipu!
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….
Renungkan! Renungkan…! Semoga Allah menjaga kita semua dari perbuatan maksiat. Amin.
بارك الله لنا ولكم في القرآن العظيم ونفعنا وإياكم بما فيه من الآيات و الذكرالحكيم فاستغفروا الله فإنه هو الغفور الرحيم
Langganan:
Postingan (Atom)